Singaraja, 23 Januari 2025 – Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) angkatan 2022 Universitas Pendidikan Ganesha mempersembahkan sebuah pameran tugas akhir bertajuk "Antara Dua Titik", yang berlangsung dari tanggal 23 hingga 30 Januari 2025 di Galeri Paduraksa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Undiksha.

Kadek Artha Wiguna selaku ketua panitia, menjelaskan makna dari tema pada pameran TA DKV ini. "Kita mengambil tema Antara Dua Titik, jadi tema ini kisah kita ber 15 menghadapi tugas kuliah dan tugas akhir, jadi tugas kuliah dan tugas akhir itu berbarengan, jadi dari awal semester kita sudah diberikan tugas-tugas kuliah yang berat, ditambah kita harus menyelesaikan tugas akhir".

Pameran ini menampilkan berbagai karya utama, di antaranya buku cerita bergambar, digital imaging, media promosi, video promosi, dan video dokumenter. Selain karya utama, setiap mahasiswa juga menghadirkan karya pendukung yang berjumlah minimal tujuh jenis.

Salah satu mahasiswa peserta pameran, Nyoman Arya Danendra, menjelaskan lebih lanjut tentang karyanya, yaitu Video Promosi Pura Beji. Karya ini bertujuan untuk mempromosikan keindahan dan keunikan Pura Beji sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Buleleng. Untuk melengkapi konsep tersebut, Arya juga menghadirkan berbagai karya pendukung, seperti stiker, gantungan kunci, selendang, dan kaos dengan logo khas Pura Beji.

Pameran ini diharapkan mampu menginspirasi para pengunjung sekaligus memberikan apresiasi terhadap kreativitas dan kerja keras mahasiswa DKV angkatan 2022. Jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan hasil perjalanan dan perjuangan mereka dalam menciptakan karya-karya yang penuh makna.

Penulis:

  • Arifa

  • Arya Ngurah

Yang Mungkin Anda Suka

22 Februari 2024

Perubahan Nama: Sambut Sembilan Prodi di Kampus Undiksha Denpasar

Universitas Pendidikan Ganesha, salah satu universitas yang ramai diperbincangkan mengenai prestasinya. Kita ketahui bahwa Undiksha memiliki dua kampus dengan lokasi yang berbeda yakni Singaraja dan Denpasar. Apakah kalian mengetahui bahwa Kampus Undiksha Denpasar telah berganti nama? kira-kira kenapa diganti? dan untuk apa hal itu diganti?
27 Juli 2026

Pameran “Melipat Arus” Jadi Ruang Eksplorasi Tradisi dan Nilai Kehidupan

Singaraja, 25 Juli 2026 Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Ganesha angkatan 2023 menggelar sebuah pameran tugas akhir dengan mengangkat tema “Melipat Arus”, yang ber-langsung dari tanggal 13 Juli hingga tanggal 27 Juli bertempat di Galeri Paduraksa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha. Pameran ini digelar sebagai wadah menampilkan tugas akhir sekaligus mengeksplorasi gagasan seni yang berkembang di kalangan mahasiswa. Salah satu peserta pameran, Ketut Putra Wibawa, menjelaskan bahwa tema “Melipat Arus” memiliki makna mempertemukan dua sisi yang dapat memperkecil, memperpe-ndek, atau membengkokkan suatu arah. Sejalan dengan interpretasi tim penulis, karya-karya dalam pameran ini menunjukkan kecenderungan perupa untuk mengangkat konsep tradisional yang kemudian dipresentasikan kembali melalui bahasa rupa dengan sentuhan artistik masing-masing seniman. Pameran ini diikuti oleh 19 mahasiswa dengan beragam jenis karya yang ditampilkan, mulai dari seni intermedia, seni lukis, seni tekstil, seni kriya logam, hingga seni kriya keramik. Keberagaman ini menunjukkan luasnya eksplorasi medium dan ide yang diangkat oleh para mahasiswa. Ketut Putra Wibawa menyampaikan kendala yang dialami selama proses persiapan pameran yang berlangsung sekitar empat bulan. “Terkendala masalah teknis, seperti, beberapa bahan sulit untuk dicari di Singaraja. Jadi, mahasiswa harus memesan terlebih dahulu.  Misalnya plat tembaga, harus dicari di Denpasar,” ujarnya. Selain itu, kendala juga muncul dalam pengaturan waktu bimbingan. “Sering kali pada saat akan melakukan bimbingan sulit mengatur jadwal dengan pembimbing serta mengatur waktu pengerjaan karya,” tambahnya. Terkait kriteria karya yang dipamerkan, terdapat standar tertentu yang harus dipenuhi oleh mahasiswa. “Kriteria yang diberikan yaitu segi ukuran dan jumlah yang akan dipamerkan. Kalau misalnya karyanya berukuran kecil-kecil karya seninya minimal 15 buah. Kalau karyanya rata-rata besar atau mendekati satu meter minimal 3 karya yang harus ditampilkan,” jelas Ketut Putra Wibawa. Putra menjelaskan lebih lanjut tentang karyanya yang mengangkat tradisi lokal dari Desa Nagasepaha, yakni tradisi Ngutang Reged atau pembuangan kotoran batin. Karya ini terdiri dari tiga bagian utama. Bagian pertama berupa perahu dengan layar yang menggambarkan watak manusia yang dikuasai sifat pewayangan, seperti tokoh Duryudana yang melambangkan keserakahan. Bagian kedua, Ngamet Tirta Amerta, menggambarkan proses penyucian batin setelah pembuangan kotoran batin. Sementara itu, bagian ketiga, Pedundungan atau makan bersama, mencerminkan nilai kebersamaan tanpa memandang status sosial. Putra mengungkapkan bahwa ia memilih tradisi tersebut sebagai inspirasi karyanya karena maknanya sering dilupakan dan jarang diminati oleh generasi saat ini.  Selain itu, Putra ingin menampilkan makna terdalam dari tradisi tersebut bahwa praktik ini bukan sekedar kegiatan yang dilakukan begitu saja, tetapi memiliki nilai spiritual yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Pameran ini juga mendapat respon positif dari para pengunjung. Salah satu pengunjung mengaku tertarik dan merasa takjub. “Saya merasa tertarik untuk datang ke pameran ini dan takjub dengan konsep yang sekarang ini lebih ke arah keagamaan,” ujarnya. Pengunjung lainnya mengaku datang setelah melihat unggahan temannya di media sosial dan mengaku menyukai keseluruhan karya, khususnya karya lukisan. Melalui pameran ini, para mahasiswa berharap agar kegiatan ini tidak dianggap sebagai akhir dari proses berkarya, melainkan sebagai awal untuk terus berinovasi dan berkembang di dunia seni kedepannya. Penulis : AnisaEditor : Azzam

Departemen 1

@2025
22 Februari 2024

Perubahan Nama: Sambut Sembilan Prodi di Kampus Undiksha Denpasar

Universitas Pendidikan Ganesha, salah satu universitas yang ramai diperbincangkan mengenai prestasinya. Kita ketahui bahwa Undiksha memiliki dua kampus dengan lokasi yang berbeda yakni Singaraja dan Denpasar. Apakah kalian mengetahui bahwa Kampus Undiksha Denpasar telah berganti nama? kira-kira kenapa diganti? dan untuk apa hal itu diganti?
27 Juli 2026

Pameran “Melipat Arus” Jadi Ruang Eksplorasi Tradisi dan Nilai Kehidupan

Singaraja, 25 Juli 2026 Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Ganesha angkatan 2023 menggelar sebuah pameran tugas akhir dengan mengangkat tema “Melipat Arus”, yang ber-langsung dari tanggal 13 Juli hingga tanggal 27 Juli bertempat di Galeri Paduraksa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha. Pameran ini digelar sebagai wadah menampilkan tugas akhir sekaligus mengeksplorasi gagasan seni yang berkembang di kalangan mahasiswa. Salah satu peserta pameran, Ketut Putra Wibawa, menjelaskan bahwa tema “Melipat Arus” memiliki makna mempertemukan dua sisi yang dapat memperkecil, memperpe-ndek, atau membengkokkan suatu arah. Sejalan dengan interpretasi tim penulis, karya-karya dalam pameran ini menunjukkan kecenderungan perupa untuk mengangkat konsep tradisional yang kemudian dipresentasikan kembali melalui bahasa rupa dengan sentuhan artistik masing-masing seniman. Pameran ini diikuti oleh 19 mahasiswa dengan beragam jenis karya yang ditampilkan, mulai dari seni intermedia, seni lukis, seni tekstil, seni kriya logam, hingga seni kriya keramik. Keberagaman ini menunjukkan luasnya eksplorasi medium dan ide yang diangkat oleh para mahasiswa. Ketut Putra Wibawa menyampaikan kendala yang dialami selama proses persiapan pameran yang berlangsung sekitar empat bulan. “Terkendala masalah teknis, seperti, beberapa bahan sulit untuk dicari di Singaraja. Jadi, mahasiswa harus memesan terlebih dahulu.  Misalnya plat tembaga, harus dicari di Denpasar,” ujarnya. Selain itu, kendala juga muncul dalam pengaturan waktu bimbingan. “Sering kali pada saat akan melakukan bimbingan sulit mengatur jadwal dengan pembimbing serta mengatur waktu pengerjaan karya,” tambahnya. Terkait kriteria karya yang dipamerkan, terdapat standar tertentu yang harus dipenuhi oleh mahasiswa. “Kriteria yang diberikan yaitu segi ukuran dan jumlah yang akan dipamerkan. Kalau misalnya karyanya berukuran kecil-kecil karya seninya minimal 15 buah. Kalau karyanya rata-rata besar atau mendekati satu meter minimal 3 karya yang harus ditampilkan,” jelas Ketut Putra Wibawa. Putra menjelaskan lebih lanjut tentang karyanya yang mengangkat tradisi lokal dari Desa Nagasepaha, yakni tradisi Ngutang Reged atau pembuangan kotoran batin. Karya ini terdiri dari tiga bagian utama. Bagian pertama berupa perahu dengan layar yang menggambarkan watak manusia yang dikuasai sifat pewayangan, seperti tokoh Duryudana yang melambangkan keserakahan. Bagian kedua, Ngamet Tirta Amerta, menggambarkan proses penyucian batin setelah pembuangan kotoran batin. Sementara itu, bagian ketiga, Pedundungan atau makan bersama, mencerminkan nilai kebersamaan tanpa memandang status sosial. Putra mengungkapkan bahwa ia memilih tradisi tersebut sebagai inspirasi karyanya karena maknanya sering dilupakan dan jarang diminati oleh generasi saat ini.  Selain itu, Putra ingin menampilkan makna terdalam dari tradisi tersebut bahwa praktik ini bukan sekedar kegiatan yang dilakukan begitu saja, tetapi memiliki nilai spiritual yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Pameran ini juga mendapat respon positif dari para pengunjung. Salah satu pengunjung mengaku tertarik dan merasa takjub. “Saya merasa tertarik untuk datang ke pameran ini dan takjub dengan konsep yang sekarang ini lebih ke arah keagamaan,” ujarnya. Pengunjung lainnya mengaku datang setelah melihat unggahan temannya di media sosial dan mengaku menyukai keseluruhan karya, khususnya karya lukisan. Melalui pameran ini, para mahasiswa berharap agar kegiatan ini tidak dianggap sebagai akhir dari proses berkarya, melainkan sebagai awal untuk terus berinovasi dan berkembang di dunia seni kedepannya. Penulis : AnisaEditor : Azzam