
Singaraja, 25 Juli 2026 Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa Universitas Pendidikan Ganesha angkatan 2023 menggelar sebuah pameran tugas akhir dengan mengangkat tema “Melipat Arus”, yang ber-langsung dari tanggal 13 Juli hingga tanggal 27 Juli bertempat di Galeri Paduraksa,
Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Undiksha. Pameran ini digelar sebagai wadah
menampilkan tugas akhir sekaligus mengeksplorasi gagasan seni yang berkembang di kalangan mahasiswa.
Salah satu peserta pameran, Ketut Putra Wibawa, menjelaskan bahwa tema “Melipat
Arus” memiliki makna mempertemukan dua sisi yang dapat memperkecil, memperpe-ndek, atau membengkokkan suatu arah. Sejalan dengan interpretasi tim penulis, karya-karya dalam pameran ini menunjukkan kecenderungan perupa untuk mengangkat
konsep tradisional yang kemudian dipresentasikan kembali melalui bahasa rupa
dengan sentuhan artistik masing-masing seniman.
Pameran ini diikuti oleh 19 mahasiswa dengan beragam jenis karya yang ditampilkan, mulai dari seni intermedia, seni lukis, seni tekstil, seni kriya logam, hingga seni kriya keramik. Keberagaman ini menunjukkan luasnya eksplorasi medium dan ide yang diangkat oleh para mahasiswa.
Ketut Putra Wibawa menyampaikan kendala yang dialami selama proses persiapan pameran yang berlangsung sekitar empat bulan. “Terkendala masalah teknis, seperti, beberapa bahan sulit untuk dicari di Singaraja. Jadi, mahasiswa harus memesan terlebih dahulu. Misalnya plat tembaga, harus dicari di Denpasar,” ujarnya.
Selain itu, kendala juga muncul dalam pengaturan waktu bimbingan. “Sering kali pada saat akan melakukan bimbingan sulit mengatur jadwal dengan pembimbing serta mengatur waktu pengerjaan karya,” tambahnya.
Terkait kriteria karya yang dipamerkan, terdapat standar tertentu yang harus dipenuhi oleh mahasiswa. “Kriteria yang diberikan yaitu segi ukuran dan jumlah yang akan dipamerkan. Kalau misalnya karyanya berukuran kecil-kecil karya seninya minimal 15 buah. Kalau karyanya rata-rata besar atau mendekati satu meter minimal 3 karya yang harus ditampilkan,” jelas Ketut Putra Wibawa.
Putra menjelaskan lebih lanjut tentang karyanya yang mengangkat tradisi lokal dari Desa Nagasepaha, yakni tradisi Ngutang Reged atau pembuangan kotoran batin. Karya ini terdiri dari tiga bagian utama.
Bagian pertama berupa perahu dengan layar yang menggambarkan watak manusia yang dikuasai sifat pewayangan, seperti tokoh Duryudana yang melambangkan keserakahan. Bagian kedua, Ngamet Tirta Amerta, menggambarkan proses penyucian batin setelah pembuangan kotoran batin. Sementara itu, bagian ketiga, Pedundungan atau makan bersama, mencerminkan nilai kebersamaan tanpa memandang status sosial.
Putra mengungkapkan bahwa ia memilih tradisi tersebut sebagai inspirasi karyanya karena maknanya sering dilupakan dan jarang diminati oleh generasi saat ini.
Selain itu, Putra ingin menampilkan makna terdalam dari tradisi tersebut bahwa praktik ini bukan sekedar kegiatan yang dilakukan begitu saja, tetapi memiliki nilai spiritual yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Pameran ini juga mendapat respon positif dari para pengunjung. Salah satu pengunjung mengaku tertarik dan merasa takjub. “Saya merasa tertarik untuk datang ke pameran ini dan takjub dengan konsep yang sekarang ini lebih ke arah keagamaan,” ujarnya.
Pengunjung lainnya mengaku datang setelah melihat unggahan temannya di media sosial dan mengaku menyukai keseluruhan karya, khususnya karya lukisan.
Melalui pameran ini, para mahasiswa berharap agar kegiatan ini tidak dianggap sebagai akhir dari proses berkarya, melainkan sebagai awal untuk terus berinovasi dan berkembang di dunia seni kedepannya.
Penulis : Anisa
Editor : Azzam


